/ Home / Mempawah /
Mempawah
Petani Keramba Ikan Resah
TRIBUN PONTIANAK/ARIEF

MEMPAWAH, TRIBUN -- Dalam beberapa minggu terakhir, sebagian warga yang memanfaatkan air Sungai Mempawah mulai merasa resah. Pasalnya, air Sungai Mempawah kembali keruh, diduga praktik PETI di hulu sungai kembali marak, sehingga mencemari sungai. 
 
Petani keramba, Pepen mengaku sejak satu minggu terakhir ini Sungai Mempawah memang terlihat keruh. "Kita mulai khawatir, karena ikan mas yang ada di keramba sangat rentan terhadap perubahan kondisi air," ungkapnya pada Tribun di tepian keramba Sungai Mempawah, Senin (8/3).
 
Menurut Pepen, dirinya selalu memantau kondisi air setiap harinya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. "Setiap hari kita kan selalu memberi makan, sambil-sambil kita pantau bagaimana kondisi airnya," terang dia. 
 
Antisipasi yang dilakukan Pepen juga dengan menjaring informasi dari petani keramba ikan lain yang berada di hulu sungai. "Kalau ikan sudah ada yang mati di hulu sungai, biasanya ikan langsung kita angkat atau kita pindahkan tempatnya," ujar Pepen.
 
Tak jarang, petani keramba juga harus memanen lebih awal ikannya, karena khawatir mati akibat air sungai tercemar limbah PETI atau air asin. "Kalau ukurannya sudah layak dijual, bisa juga langsung kita panen, daripada ikannya mati," tandasnya.
 
Petani keramba lainnya, Heri mengatakan dirinya telah menyediakan obat agar ikannya dapat bertahan dengan kualitas air yang buruk. "Kalau airnya normal kita kasih dua minggu sekali. Tapi kalau airnya keruh, bisa kita tambah sampai empat kali seminggu," tuturnya.
 
Menurutnya, kondisi air Sungai Mempawah saat ini masih cukup aman untuk ikan- ikan yang ada di kerambanya. "Sudah dua minggu ini keruh, tapi alhamdulillah sampai saat ini ikan-ikannya masih dapat bertahan," kata Heri.
 
Meski demikian, Heri tetap merasa resah bila kondisi tersebut terus berlanjut dan semakin parah. "Kita tidak tahu pasti penyebabnya, tapi jika ada penambangan liar di hulu, biasanya air sungai memang menjadi keruh," tuturnya.
 
Heri mengatakan, keramba yang dikelolanya secara berkelompok itu, sebagian besar diisi dengan ikan mas. "Kebanyakan memang ikan mas, tapi ikan nila juga ada. Yang rentan terhadap perubahan kondisi air, biasanya ikan mas," jelasnya. 
 
Empati Warga 
Komandan Kodim (Dandim) 1201/MPW, Letkol Inf Parlindungan Sirait mengajak warga yang berada di hulu Sungai Mempawah, untuk bisa berempati terhadap warga lain yang tinggal di hilir sungai.
 
Menurut Dandim, praktik penambangan emas tanpa izin (PETI) yang dilakukan warga di hulu sungai, dapat mengakibatkan sungai tercemar. "Mereka harus berfikir, bahwa saudara-saudara mereka yang ada di hilir, punya ketergantungan terhadap sungai itu," ungkapnya kepada Tribun, Senin (8/2).
 
Dandim menyampaikan imbauan agar para penambang liar menghentikan aktivitasnya, karena praktik penambangan liar sangat merugikan. "Pada prinsipnya, penambangan liar itu merusak lingkungan, dan merugikan orang lain," katanya.
 
Sampai saat ini, Dandim mengatakan pihaknya terlebih dulu mengedepankan pendekatan persuasif kepada warga, dalam penanggulangan PETI. "Kalau penindakan dari aspek hukumnya, nanti kita koordinasikan dengan Polres dan pemerintah kabupaten," tukasnya.
 
TNI bersama kepolisian dan pemerintah daerah, dikatakan Dandim tidak akan membiarkan praktik PETI terus berlangsung. "Tahun lalu sudah pernah kita lakukan penindakan, tapi sekarang ini mulai muncul lagi orang-orang yang hanya mencari keuntungan sendiri, tanpa memikirkan orang lain," paparnya. (ari)

Tribun Pontianak
Bergabung dengan Facebook Tribun Pontianak

e-mail : tribunpontianak@yahoo.com
SMS Hotline : 081257554020
Sirkulasi : (0561) 725588
Iklan : (0561) 7910123

komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Jumat, 30 Juli 2010