|
|
Sambas
Bayi Cacat Diduga Korban Malpraktek
TEBAS, TRIBUN - Galuh Purwati (2 bulan), anak pasangan suami sitri Mawardi dan Ernawati, warga Tebas, Sambas, sejak lahir mengalami cacat dengan dua tungkai telapak kakinya membengkok, lengan kanan juga bengkok serta lengan kiri mengecil.
Pasangan tersebut menduga, telah terjadi malpraktik yang dilakukan oleh mantri kesehatan, Syamsul, saat Ernawati sedang hamil muda dengan tetap melakukan suntik KB. Setidaknya dua kali mereka telah melaporkan ke polisi, namun hingga sekarang belum ada tindaklanjutnya.
"Saya bilang kepada (Mantri) Syamsul, mungkin saya hamil, karena tidak menstruasi. Tapi mantri itu, bilang saya kena ambien dan penyakit maag," terang Ernawati kepada Tribun, Jumat (5/3), di rumahnya Dusun Meluh, Desa Mekar Sekuntum, Kecamatan Tebas.
Selama tiga bulan, April- Juni 2009, Erna terus disuntik KB serta suntik ambein, serta obat maag. Namun, sekitar Agustus 2009, bidan kampung, Kajim, memberitahukan Erna sedang hamil. Kenyataan tersebut dibenarkan juga oleh bidan Puskesmas Tebas, Ati, yang menemukan usia kehamilan Erna telah masuk enam bulan.
Sejak temuan bidan Ita tersebut, suami Erna, Mawardi, berkeyakinan bayinya akan lahir tak normal, karena sang istri sebelumnya terus mendapat suntikan dan mengkonsumsi pil KB sesuai saran mantri Syamsul.
Tak pelak, saat Galuh Purwati lahir 5 Januari 2010, bayi tersebut sudah dalam keadaan cacat. Merasa anaknya yang lahir diduga korban malpraktik, Mawardi mencoba melaporkan ke Polsek Tebas.
"Tapi polisi bilang, bayi saya tak apa-apa. Malahan dia bilang kami bisa ditangkap, karena mencemarkan nama baik," jelas Mawardi. Sejak saat itu ia merasa ketakutan.
Namun paman Mawardi, Talip, mengisahkan kejadian tersebut kepada anggota Polres Sambas, Dodi, yang kemudian meminta Mawardi untuk melapor. "Sampai dua jam Dodi meminta saya agar melapor, saya takut. Tapi akhirnya dia menemani ke Polsek Tebas," ujarnya tentang laporan pertama pada 23 Januari 2010. Karena tak ada perkembangan Mawardi kembali melapor ke Mapolres Sambas, pada 11 Februari.
Tidak hanya itu, rumahnya nyaris terbakar, karena diduga secara sengaja dibakar. Mawardi menemukan pakaian yang dilumuri minyak tanah yang belum habis terbakar di atas atap rumahnya.
Ketakutan keluarga ini semakin menjadi-jadi, karena jiwa mereka terancam akibat berusaha melapor kepada polisi. Rumah papannya itu, nyaris ludes dilalap api, syukurnya ia segera melihat kebakaran yang diduga dilakukan sengaja.
"Atap daun kami sudah sempat terbakar, syukur cepat saya padamkan. Saya menemukan pakaian yang dilumuri minyak tanah yang belum habis terbakar diatas atap saya," katanya.
Jika terlambat, tutur Mawardi, istri dan anaknya yang sedang tidur pasti hangus terbakar. Ia tahu siapa pelaku pembakar rumahnya. Meski merasa terintimidasi, Mawardi dan Ernawati, terus berusaha agar mendapat keadilan atas dugaan malpraktek yang menimpa anaknya.
Bidan Puskesmas Tebas, Ati, yang ditemui Tribun, membenarkan ia menemukan Ernawati telah hamil enam bulan saat diminta oleh Mantri Syamsul untuk mengkonsumsi obat dan suntik KB.
"Saat lahir, bayi itu sudah dalam keadaan seperti itu. Kasihan mereka (orangtua bayi), hanya ingin pertanggungjawaban saja. Mawardi ada menunjukkan pakaian terbakar yang dilemparkan ke atap rumah, sekarang mereka ketakutan," jelas sang bidan, yang menilai tak ada niat pasutri tersebut untuk memeras siapapun.
Mantri Syamsul yang Tribun hubungi, menolak untuk memberikan komentar terkait dugaan dirinya melakukan malpraktik. "Merekakan sudah melapor, sudah ditangani polisi, tanya saja ke Polres. Yang bisa menanyakan seperti itu, hanya polisi," tandas Syamsul. Ia juga mengelak saat ditanya apakah pernah menyuntik KB pada Ernawati.
Kepala Dinas Kesehatan Sambas, Sjachrin Harahap mengatakan, telah diberitahu mengenai kasus tersebut. "Wartawan tak usah ikut-ikutanlah, penyelesaiannya sedang dicari. Syamsul memang anak buah saya, kita sudah tahu duduk masalahnya," kata Kepala Dinkes Sambas yang saat itu sedang di Jakarta.
Menurutnya sudah berbagai jalan penyelesaian diupayakan, baik secara kekeluargaan maupun memlalui kepolisian. "Itu bukan malpraktik, suntik KB untuk menambah hormon. Nanti sajalah kita sambung pembicaraan tunggu saya kembali ke Sambas," kata Sjachrin singkat. (dng)
Tribun Pontianak
komentar
|
Jumat, 30 Juli 2010
|