|
|
Sumatera
Dancer Impor pun Menyamar Turis
PADA umumnya agen tarian telanjang (streaptease) telah memiliki track record di dunia malam cukup panjang. Para mucikari penyedia penari erotis itu telah malang-melintang di ibu kota, bahkan di luar negeri. Dari pengalamannya menyelami liku-liku di dunia malam itulah para agen mampu mengendus bahwa Batam adalah pasar paling menjanjikan.
Salah seorang agen streaptease di Batam, --sebut saja Pendi, mengakui untuk mendapatkan ‘kelas’ tertentu, ia mesti mendatangkan penari dari negara asing. Ada dari China, Filipina, bahkan dari Eropa. Semua bisa dijalankan atas kerjasama dengan pub-pub yang ada di luar negeri. Memang tak mudah mensiasati peraturan yang ada. Oleh karena itu segala cara ditempuh, termasuk mencoba ‘menyelundupkan’ mereka sebagai turis. Namun yang lebih umum, para penari streaptease ini berada di Batam selama satu bulan-- sesuai dengan izin kunjungan yang diberikan pihak imigrasi. Mereka yang habis masa tinggalnya kemudian dipulangkan dan didatangkan kembali penari lainnya. Ini ditempuh agar stok penari tidak sampai kosong. Di Batam para penari ditempatkan di hotel maupun di apartemen. Lantas berapa para penikmat harus membayar para penari impor itu? “Untuk sekali tampil menimal satu jam dengan bayaran antara 500-2.000 dolar Singapura. Tarif tersebut memang tergantung dari mana asal para penari yang akan tampil. Bule jelas lebih mahal,”ujarnya. Menurutnya yang selalu memesan dancer dari luar negeri ini biasanya kalangan pejabat dan pengusaha berkantong tebal. Setiap ada yang memesan ia pun selalu meminta dulu pembayaran. Awalnya Canggung Pil pahit itu salah satunya dirasakan oleh Rifka Adeline. Di usianya yang masih 15 tahun Rifka dipaksa untuk menari di depan tamu tanpa sehelai pakaian pun. Gadis yang masih duduk di bangku SMP di Jakarta ini juga disuruh melayani tamu-tamu asing yang ingin menikmati tubuh mungilnya. Kepada Tribun ia bercerita, kenginan awalnya pergi ke Batam hanyalah ingin mencari pekerjaan untuk biaya adiknya yang masih sekolah. Ayahnya telah tiada, sedangkan Deborah (40)-- ibunya, hanya bekerja di sebuah pabrik mesin di Jakarta. Praktis ia harus menanggung satu orang adiknya yang masih kecil. Makanya saat diajak Ade (18)--temannya untuk bekerja di Batam, Rifka tak segan-segan menganggukkan kepala tanda setuju. “Ibu usianya sudah tua, upah ibu hanya cukup untuk makan. Ade ajak saya bekerja jadi waitress, saya lihat adik butuh uang, makanya saya mau saja. Ade itu kawan dari papi,” ujar Rifka yang biasa memanggil Hendro denga sebutan papi. Hendro merupakan mucikari streaptease yang kini diangkap polisi setelah Rifka mengadukannya ke Polsek Lubuk Baja, Batam beberapa waktu lalu. Di Batam Rifka ditempatkan di sebuah mess di daerah Happy Garden, Baloi. Hendro menyediakan tempat ini khusus untuk menampung para dancer-nya. Di rumah inilah Rifka diajari bagaimana cara menari streaptease. Butuh sehari Rifka mendapat ilmu dari para seniornya. “Pertama kali menari saya canggung sekali, takut dan geli. Seumur-umur baru kali ini telanjang di depan umum. Tapi mau gimana lagi, saya tidak ada saudara untuk minta bantuan menolaknya. Kain yang saya pake langsung ditarik sama kakak (temannya),” ujar Rifka. Bimbingan dari dancer lain membuat Rifka mempu menepis rasa ketakutannya. Kian hari ia pun kian piawai. Meski hati teriris, ia mengaku kian pede meliuk-liukkan badannya di keremangan room tempat hiburan malam. Rifka dan dancer lainnya mengaku dituntut untuk terus bekerja. Mulai pukul 21.00 WIB berangkat dari mes, mereka umumnya baru pulang pukul 02.00 WIB. Apabila ada yang ingin mem-booking lebih lanjut, maka dancer-dancer itu siap begadang hingga pagi hari. “Tidak cukup waktu untuk istirahat. Kadang kalau banyak tamu bisa nggak tidur. Karena itu, sudah ada dua teman seumuran saya yang kabur waktu di-booking apek-apek Singapura,” ujarnya. (urn/bur/apr)
Tribun Pontianak komentar
|
Jumat, 30 Juli 2010
|