|
|
|
/ Home / Top Stories /
Top Stories
Melepas Burung Menebar Kebajikan
Ritual melepas burung dilakukan umat Budha dan Konghucu. Minggu, 7 Februari 2010 | 18:02 WIB
JAKARTA, TRIBUN — Momen tahun baru adalah momen spesial bagi setiap umat beragama. Doa-doa dipanjatkan kepada Yang Esa untuk kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru. Melepas burung itu artinya menebar kebaikan karena burungnya tidak terkurung lagi.
Tak terkecuali momen Hari Raya Imlek bagi umat Buddha dan Konghucu. Sepekan menjelang Hari Raya Imlek 2010, Minggu (7/2/2010), Vihara Dharma Bhakti di kawasan Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Pusat, sudah ramai dikunjungi oleh umat Buddha dan Konghucu. Mereka bersembahyang, memanjatkan doa dengan hio dan bermeditasi. Ada ritual sembahyang umat Buddha dan Konghucu yang menarik di wihara ini. Melepas burung. Tidak semua umat yang datang melakukannya. Seusai bersembahyang di dalam kelenteng, bagi mereka yang mau, bisa melaksanakan ritual melepas burung di depan kelenteng. Menurut Lingga (51), warga Ancol yang datang bersembahyang di wihara ini, ritual melepas burung memiliki arti tersendiri bagi umat Buddha dan Konghucu. "Kita hanya berbuat kebajikan saja untuk melepas burung-burung itu hidup senang, hidup bahagia di alam bebas. Kalau di dalam kurungan terus kan gimana ya, seperti burung dalam sangkar," tuturnya kepada Kompas.com ketika ditemui di Vihara Dharma Bhakti. Lingga mengatakan, kebebasan seperti yang ditunjukkan dalam ritual itu jugalah yang diharapkan oleh umat manusia untuk menjalani kehidupan. Frendy (29), warga Pademangan, mengatakan hal serupa. Menurut Fredy, dengan melepas burung, dirinya sedang melakukan kebajikan. "Bagi kita, melepas burung itu artinya menebar kebaikan karena burungnya tidak terkurung lagi," tegasnya secara terpisah. Bagi mereka, ritual ini merupakan simbol dari melakukan kebajikan bagi seluruh ciptaan yang hidup di bumi. Dengan demikian, mereka percaya, permohonannya akan didengar Tuhan. Baik Lingga maupun Frendy juga mengatakan bahwa ritual melepas burung bisa dilakukan kapan saja meski tak semua harus selalu melakukannya. Biasa dilakukan pada momen-momen khusus keagamaan atau dalam memanjatkan permohonan khusus. Mereka mengaku datang ke Vihara Dharma Bhakti untuk sembahyang, termasuk melakukan ritual ini, menjelang Tahun Baru Imlek. "Biasa dilakukan spesial untuk menjelang tahun baru ini, seperti umat beragama lainnya, selalu lebih meriah. Ada ritual-ritual khusus," kata Lingga. "Kalau saya sih tadi emang pengin aja," ujar Frendy. Bagi umat Buddha dan Konghucu, ritual ini biasa dilakukan ketika datang sembahyang ke kelenteng setiap tanggal 1 dan 15 ketika bulan benderang atau sering disebut bulan Imlek menurut sistem penanggalan China. (KOMPAS.com) komentar
|