/ Home / Smartmom /
Smartmom
Anakku Perlu Sekolah Khusus

Haryo,penyandang hiperaktif spektrum autis menunjukkan kemampuannya menghafal peta kepada ibunya.

Tahun ajaran baru akan dimulai. Orangtua mulai sibuk mencari pendidikan terbaik bagi putra putrinya. Tak terkecuali anak dengan kebutuhan khusus (ABK), yang memerlukan penanganan khusus. ABK dapat diartikan secara simpel sebagai anak yang lambat (slow) atau mangalami gangguan (retarded) yang tidak akan pernah berhasil di sekolah sebagaimana anak-anak pada umumnya.

 

Octo Iskandar Haryo Pamudi (2), anak ketiga Agustina Sri Wahyuningsih yang menyandang hiperaktif spektrum autis pernah ditolak satu sekolah ternama di Pontianak. Haryo, panggilan anaknya, ditolak masuk sekolah itu dengan alasan hanya menerima anak-anak yang pintar dan lulus tes.

 

Menurut Agustina pendidikan bagi anak ABK juga diperlukan. Selain untuk menambah sosialisasi sang anak, juga untuk meningkatkan perkembangan anak. Tetapi kendala yang dihadapi adalah sekolah yang dituju. “Pendidikan sangat perlu bagi mereka, tetapi sampai saat ini belum banyak sekolah-sekolah yang mau menerima mereka. Itulah kendala yang dihadapi para orang tua yang memiliki anak istimewa,” tuturnya, Rabu (24/6), saat ditemui di kediamannya.

 

Sekolah juga tak kalah pentingnya dalam mendukung dan mengembangkan potensi ABK. Pendidikan yang layak baginya berupa program yang dirancang khusus atau Individual Education Program (IEP) untuk mengembangkan kemampuannya. Sekolah harus bekerjasama dengan psikolog agar dapat menyediakan IEP yang tepat.

 

Agustina memutuskan agar Haryo kini belajar di bimbingan belajar (Bimbel). Saat memasukkan anaknya di tempat itu, dia menjelaskan kepada pengelola bimbel tentang keadaan anaknya, memberikan pengertian dan akhirnya kini anaknya sudah bisa bergaul dengan anak-anak lain. Ia tidak menyangka bahwa anaknya sudah bisa bicara bahkan menulis secara lancar layaknya anak kelas 1 SD pada umumnya. Bahkan memiliki kemampuan hafal peta dunia.

 

Kunci utama untuk mengembangkan potensi ABK adalah kerjasama antara orangtua, sekolah atau guru, serta terapis dan psikolog. Selain itu harus ada pola pendidikan yang berkesinambungan antara rumah, di sekolah dan program terapi. Di rumah, orangtua mempunyai peran yang cukup besar dalam menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan ABK. Di mulai dari hal-hal kecil seperti penerapan peraturan lakukan dan jangan lakukan (dos and dont’s) yang harus diketahui dan dilakukan setiap anggota keluarga kepada ABK. Dan membuat jadwal aktivitas yang efektif dan terstruktur agar bermanfaat maksimal baginya.

 

Saat ini Agustina menjadi pelindung Parent Support Group (PSG) Pontianak, yaitu perkumpulan para orang tua yang memiliki kebutuhan khusus, di tempat ini bisa saling berbagi pengetahuan. Untuk mendidik anak dengan kebutuhan khusus ini perlu kesabaran, dan diperlukan terapi perilaku. Terapi adalah satu diantara sarana untuk mengembangkan kemampuan ABK. Intensitas terapi bagi seorang ABK, sangat bergantung pada tingkat perkembangan dan kemampuan fisik serta mentalnya.

 

Dari tempat terapi inilah diharapkan baik terapis, psikolog dan orang tua menemukan potensi ABK yang bisa dikembangkan lebih lanjut di sekolah inklusi, ataupun pusat-pusat belajar lain yang sesuai. Jika memungkinkan kemampuan di luar akademisnya ini dapat berjalan beriringan dengan pendidikan hingga jenjang tertinggi. “Saya berharap para pendidik di Pontianak berani mendukung anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus,” tuturnya. Ia menginginkan semua pihak termasuk pemerintah dapat bergandeng tangan, agar jangan sampai anak-anak berkebutuhan khusus terdiskreditkan oleh lingkungan, begitu juga dengan pendidikannya.

 

“Kita harus merawat dan menjaga anak yang istimewa ini dengan penuh kesabaran dan ikhlas. Orangtua diberi kepercayaan oleh Tuhan mempunyai anak yang istimewa juga,” katanya. (jpl)

 

 

Empat Jenis Kebutuhan Khusus

 

 

1. Down Syndrome (DS)

Penyebab DS adalah kelainan genetis, yaitu kelainan kromosom, yakni terbentuknya kromosom 21 akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan. Ciri khas fisik anak DS berwajah mongoloid dengan dahi cenderung datar, kuping kecil, lidah besar.

2. Slow Leaner (SL)

Adalah anak yang memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal, biasa disebut dengan borderline intellectual functioning. Memiliki IQ antara 70 - 84. Ciri-ciri umum rata-rata prestasi belajar selalu rendah.

Dalam menyelesaikan tugas akademik sering terlambat dibandingkan dengan teman-teman seusianya. Daya tangkap terhadap perlajaran lambat. Dalam memberikan pemahaman kepada anak SL, konsep-konsep abstrak harus diubah dulu ke dalam konsep yang sangat konkret, bermakna, serta personal supaya lebih bisa dipahami.

3. Cerebral Palsy (CP)

Adalah kelainan atau cacat yang menetap pada alat gerak yang disebabkan gangguan fungsi saraf otak. CP termasuk tuna daksa.

- Spastic, yaitu jenis yang paling sering muncul. Ciri-ciri umumnya adalah badan terlihat lemah dan kaku.

- Athetoid. Ciri-ciri umumnya individu tidak bisa mengontrol gerakan otot dari bagian-bagian tubuhnya, sehingga menghasilkan gerakan/ posisi tubuh yang tidak normal.

- Ataxic. Jenis yang paling jarang muncul. Ciri-ciri umumnya, individu mengalami hypotonia (otot lemah dan

tubuh terkulai) serta tremor. Bermasalah dalam kemampuan motorik, seperti menulis, memegang gunting, keseimbangan.

4. Autisme

Adalah gangguan perkembangan yang gejalanya sudah tampak sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Autisme sering terjadi pada anak Lelaki daripada anak perempuan dengan perbandingan 3:1

a. Gejala-gejala gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi (minimal satu dari gejala-gejala di bawah ini)

- Perkembangan bicaranya terlambat, atau sama sekali tidak berkembang.

- Bila bisa bicara, bicaranya tidak digunakan untuk berkomunikasi.

- Tidak mampu memulai suatu pembicaraan atau memelihara perbincangan dua arah dengan baik.

- bahasanya tidak lazim dan diulang-ulang atau stereotipik.

b. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik (minimal 2 dari gejala berikut ini):

- Kegagalan dalam menjalin interaksi sosial, seperti kontak mata sangat kurang, ekspresi wajah yang kurang hidup, serta postur dan gerak tubuh tidak sesuai.

- Kegagalan untuk membina hubungan sosial dengan teman sebaya, dimana sang anak tidak bisa berbagi emosi aktivitas maupun interes bersama.

- Ketidakmampuan secara sepontan mencari teman untuk berbagi kesenangan dan melakukan sesuatu bersama-sama.

c. Menunjukkan pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam hal perilaku, minat dan kegiatan (minimal satu dari gejala dibawah ini):

- Mempertahankan satu minat atau lebih, dengan cara yang sangat khas, berlebihan bahkan tidak normal.

- Terpaku pada suatu ruinitas atau ritual yang tidak berguna

- Adanya gerakangerakan motorik aneh yang khas dan diulang-ulang

- Sering kali terpukau dengan bagian benda / mainan tertentu, seperti roda yang diputar-putar.

- Sering menunjukkan emosi yang tidak wajar, temper tantrum (mengamuk tak terkedali), tertawa dan menangis tanpa sebab, dan rasa takut yang tak wajar.

- Selain gangguan emosi, sering kali anak-anak ini menunjukkan gangguan sensoris, seperti kebutuhan mencium-cium/menggigit-gigit benda, tidak suka dipeluk ataupun dielus-elus. (jpl)

 

Tribun Pontianak
Bergabung dengan Facebook Tribun Pontianak

e-mail : tribunpontianak@yahoo.com
SMS Hotline : 081257554020
Sirkulasi : (0561) 725588
Iklan : (0561) 7910123

1 dari 1 Halaman Komentar | First Prev Next Last

Ibu, saya memerlukan informasi tentang hypotonia. semoga ibu bisa memberikan informasi yg lengkap tentang hal tersebut. terima kasih.

Posted by: jenny cathrin | Rabu, 24 Februari 2010 | 13:39 WIB

komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Jumat, 30 Juli 2010