Youngster
Sistaponik SMAN 1 Pontianak - Teori Sekaligus Praktik Biologi

Kegiatan ekstrakurikuler ini telah lama berkembang di SMAN 1. Namanya Sistaponik, komunitas para siswa pecinta tanaman hidroponik. Yakni penanaman dengan media pasir, sekam, dan air.

 

“Saya mengkonsepkan Sistaponik ini, tidak sekadar untuk kegiatan ekstrakurikuler belaka, sekalian diarahkan untuk pembelajaran. Kebetulan saya guru Biologi, jadi mengajarkan pelajaran yang sekalian praktek di Sistaponik ini. Dan ini juga sudah ditiru oleh guru yang lain.” ujar Sri, panggilannya, saat ditemui Tribun bersama anggota Sistaponik dan Keliling (Kelompok Peduli Lingkungan) di SMAN 1 Pontianak, Kamis (25/6) sore.

 

Sistaponik sudah terbentuk sejak beberapa tahun lalu sebelum di bawah pembinaan Sri Supartini, guru  biologi kelas XI. Berbagai agenda dan perencanaan dilakukan untuk pengembangan kegiatan. Mulai dari pemberian masukan berupa teori sampai dengan praktik, yang banyak menambah pengetahuan bagi para pecinta tanaman.

 

Meskipun kejayaan Sistaponik sekarang belum tampak seperti dulu, Sri tetap optimis akan membawa Sistaponik menjadi lebih baik dan bisa menyamai dengan kegiatan ekstrakulikuler lain yang ada di SMAN 1. Berbagai tanaman hidroponik telah berhasil diterapkan di Sistaponik, dari tanaman obat hingga tanaman buah dan sayuran. Meskipun belum bisa menunjukkan hasil lebih baik.

 

Media yang digunakan oleh Sistaponik adalah media sekam dan juga pasir yang dibantu juga oleh media air. Tanaman hidroponik yang diterapkan oleh Sistaponik antara lain lidah mertua (sansiviera sp), yang sangat ampuh untuk menangkal polusi, khususnya seperti karbon dioksida, benzena ataupun formaldehyde thricloroothylene, karena daun-daunnya berfungsi untuk mengikat zat-zat tersebut.

 

Lidah buaya (aloevera), kacang panjang, cabai rawit, tomat, bougenvil, kemuning, daun bawang, cocor bebek, stowberi, ataupun sawi pernah diterapkan juga oleh sistaponik dalam prakteknya. “Kami pernah panen sawi tahun tiga tahun yang lalu. Hasilnya bagus, besar-besar dan subur. suka melihnya, apa yang kami kerjakan ternyata berhasil. Akhirnya dibawa pulang oleh anak-anak dan juga guru,” ujar Sri.

 

Kegiatan rutin Sistaponik biasanya dilaksanakan setiap hari sabtu setelah pulang sekolah, yaitu pukul 11.00 WIB, tetapi jika hari tersebut mengalami kendala maka kegiatan akan diganti pada hari Minggu sore. Anggota Sistaponik sampai saat ini terdiri dari 25 orang siswa dari kelas sepuluh yang terdiri dari 15 orang dan dari kelas sebelas yang terdiri dari 10 orang.

 

Sebagai pembimbing, Sri mengharapkan agar para anak didiknya, khususnya bagi anggota Sistaponik dapat menambah pengetahuan yaitu mengenal berbagai jenis tanaman yang ada termasu nama latinnya. Dapat mengerti paraktek, baik dalam proses pemilihan bibit, penanaman, penyiraman, pemindahan sampai dengan perawatan.

 

Untuk meningkatkan hasil yang lebih baik lagi di tahun ke depan, maka Sri akan bermusyawarah dengan para anggota, sehingga dapat diberikan solusi yang terbaik “Kegiatan akan kita perketat, walaupun mereka banyak kegiatan, Sistaponik juga mesti diprioritaskan, selain itu pelihara tanaman juga perlu kita kembangkan.” Harapan sang pembimbing ini ternyata didukung oleh beberapa anggota yang hadir saat pertemuan tersebut.

 

“Semoga Sistaponik ini bisa semakin eksis, anggotanya bisa semakin lebih banyak. Sehingga Sistaponik semakin bisa berkembang dan mengalahkan eskul yang lain,” ujar Vanya Asty Novitasari, anggota Sistaponik kelas X.

 

Vanya (panggilan akrabnya), mengungkapkan alasan bergabungnya di Sistaponik dikarenakan keunikan dari eskul itu sendiri. “Dulu awal masuk dan diperkenalkan oleh semua ekskul di SMA ini, langsung tertarik dengan Sistaponik, habis unik aja siswa pecinta tanaman hidroponik. Kayaknya seru, masuk deh bergabung.” Menurut Vanya setelah ia bergabung di Sistaponik ternyata sesuai dengan bayangannya. Seru, ditambah dengan pembimbing yang baik, sehingga suasana kekeluargaan kerap tersirat di komunitas Sistaponik tersebut. (jpl)

 

Kerjasama dengan Keliling

 

KEBERHASILAN Sistaponik tak jauh lepas dari kehadiran Keliling, yaitu Kelompok Peduli Lingkungan yang baru dua tahun terbentuk di SMAN 1 Pontianak. Dengan adanya Keliling, yang memiliki misi yang sama dengan Sistaponik, serasa menambah angin segar bagi Sistaponik yang sekarang sedikit berkendala.

 

Keliling berdiri terinspirasi dari perlombaan Toyota Eco Youth ke- 3, Maret 2007. “Ada ajang perlombaan Toyota Eco Youth ke tiga, maka terbentuklah perkumpulan ini. Awal pendirinya terdiri dari tujuh orang, yaitu Sasa, Satrio, Puji, Kostan, Reja, Maha dan Togi,” ujar Maha menerangkan.

 

Keliling yang sekarang terdiri dari 50 orang ini memiliki kegiatan seperti pembuatan kompos, yang nantinya akan di jual dan dipergunakan untuk membantu Sistaponik dalam merawat tanaman. Pelatihan lingkungan, Gokil (gran opening Karya Ilmiah remaja (KIR) dan Keliling) dan pemilihan duta Keliling yang bertugas memberikan penyuluhan, mengawasi kebersihan lingkungan samapi kesetiap kelas.

 

Togi satu diantara pendiri dari Keliling memberikan banyak dukungan kepada Sistaponik. “Sistaponik ini memang perkumpulan bagi orang-orang yang mengerti tentang tanaman. Kami sebagai anggota Keliling bekerja sama dengan Sistaponik, kami membuat pupuknya, mereka yang menggunakan. jadi saling seimbang, keindahan lingkungan dapat tercipta,” ungkap Togi Lestari Manurung.

 

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Irwanto Dwi Maha Purna, yang akrab dipanggil Maha yang juga turut membantu Sistaponik. “Menurut saya Sistaponik itu suatu kelompok yang menantang dan eklusif. Tidak hanya melatih tapi juga bisa memberikan pelajaran untuk masa depan kita.” (jpl)

Tribun Pontianak
Bergabung dengan Facebook Tribun Pontianak

e-mail : tribunpontianak@yahoo.com
SMS Hotline : 081257554020
Sirkulasi : (0561) 725588
Iklan : (0561) 7910123

komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Jumat, 30 Juli 2010