Hukum Internasional
Rudd Dukung China di IMF
ap

CANBERRA, TRIBUN – Perdana Menteri Australia, Kevin Rudd, mengusulkan peran lebih besar China di IMF sebagai timbal balik dari penyuntikkan dana dalam jumlah besar yang dilakukan oleh China ke negara-negara berkembang.

Rencana tersebut akan disampaikan Perdana Menteri Australia Kevin Rudd saat bertemu langsung untuk pertama kalinya dengan Presiden AS Barack Obama di Washington, Selasa (24/3). “Saya telah meminta dukungan suara lebih besar bagi China dari para pemimpin 20 negara ekonomi yang akan menghadiri KTT G-20 di London bulan depan,” kata Kevid Rudd, Senin (23/3).

Berdasarkan ketetapan IMF, China memiliki 3,7 persen hak suara atau masih di bawah Jerman dan Inggris yang ma sing-masing memegang 5,9 dan 4,9 persen suara. AS memegang hak suara terbesar di IMF, yaitu 16,8 persen.

Saat berkunjung ke Washington dan New York, Rudd akan menemui Menteri Luar Negeri Hillary Clinton, Ketua Bank Sentral Ben Bernanke, serta Menteri Keuangan Timothy Geithner. Rudd juga menyatakan, pemerintah Australia berencana mempertimbangkan permohonan AS untuk menambah jumlah pasukan di Afganistan.Australia juga berencana mempromosikan peran China dalam mencari solusi terhadap krisis ekonomi global.

Sebelum bertolak menuju Washington, Kevin Rudd menyatakan, Afganistan dan krisis keuangan dunia akan menjadi agenda perbincangannya dengan Obama. Dalam wawancaranya dengan televisi Nine Network, Rudd menyatakan telah sepakat dengan Obama bahwa strategi militer koalisi belakangan di Afganistan tidak berfungsi secara efektif.

Untuk itulah, Kevin Rudd mempertimbangkan permohonan dari AS untuk mengirimkan pasukan lebih banyak ke Afganistan. Australia merupakan sekutu dekat AS yang menempatkan sekitar 1.000 personil di selatan Afghanistan.

“Ini bukan masalah menyetujui atau tidak pengajuan tersebut tetapi ini mungkin berarti terdapat  perubahan konfigurasi terhadap misi pasukan koalisi di Afghanistan,” kata Kevin Rudd. Total telah 10 personil pasukan Australia tewas di Afghanistan. Dua personil di antaranya tewas dalam pertempuran pekan lalu. Beberapa pejabat terkemuka Australia menjelaskan kondisi pertempuran di Afghanistan semakin memburuk sehingga lebih banyak pasukan dibutuhkan.

Namun, Canberra menjelaskan pasukan tambahan tersebut seharusnya berasal pertama-tama dari negara Eropa karena Australia sudah merasa menanggung bagian misinya. Obama telah memerintahkan penambahan 17.000 personel pasukan AS yang telah mencapai 38.000 personel di Afganistan. Obama diperkirakan akan meminta Australia juga melakukan hal serupa. (ap/ kompas.com)

 

Tribun Pontianak
Bergabung dengan Facebook Tribun Pontianak

e-mail : tribunpontianak@yahoo.com
SMS Hotline : 081257554020
Sirkulasi : (0561) 725588
Iklan : (0561) 7910123

komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Jumat, 30 Juli 2010