Noorsyaidah: Sayalah Orang yang Sakit itu...
TRIBUN KALTIM/M KHAIDIR
Noorsyaidah
Sabtu, 12 Juli 2008 | 19:09 WIB
PENYAKIT misterius yang dialami Noorsyaidah, menguncang dunia medis di negeri ini. Andai saja kasus itu tak terendus wartawan Tribun Kaltim, mungkin tak akan ada yang pernah tahu bahwa ada manusia yang tengah menderita bertahun-tahun. Kini, fenomena itu menjadi sorotan pers nasional maupun internasional. Berikut penuturan Muhammad Khaidir, yang kali pertama mengendus berita itu.
JUMAT (4/7) siang, sekitar pukul 13.00 Wita, saya bersama beberapa teman sengaja datang ke arena olahraga di Samarinda, sekedar melepas lelah sebelum melakukan liputan lain seperti yang telah direncanakan redaktur. Baru sepuluh menit nongkrong di tempat itu, tiba-tiba pesawat handphone berbunyi.
Rupanya sang penelepon adalah seorang rekan yang selama ini akrab dengan saya. Dari balik telepon ia bercerita bahwa ada seorang ibu mengidap penyakit aneh. Teman itu mengusulkan agar penderitaan wanita tersebut diangkat di media. Siapa tahu ada hamba Allah yang ringan tangan dan mau membantu mengatasi penyakitnya. Mendengar penjelasan itu, saya meminta agar ia segera menemui saya. Apalagi dia berjanji akan membawa foto-foto wanita itu.
Dua puluh menit kemudian, teman saya datang. Ia memperlihatkan foto seorang wanita dengan perut penuh kawat. Foto-foto itu diabadikannya melalui pesawat handphone tipe N70. Semula saya tidak percaya. Tapi rekan yang satu ini tetap menyakinkan saya. "Ini penyakit langka dan aneh. Ibu ini sudah puluhan tahun menderita. Kasihan dia menderita seperti itu," bisiknya.
Saat itu saya merenung sebentar, mencari akal bagaimana caranya saya bisa menyakinkan kepada redaktur agar berita itu bisa dimuat.
Okey... Saya putuskan, esok saya akan menemui wanita itu. Kemudian saya meminta nomor handphone keluarga penderita, berikut alamat rumahnya. Setelah itu saya sedikit bercanda dan mengatakan bahwa penyakit seperti itu adalah sesuatu yang biasa saja. Paling hanya bulu-bulu tebal atau akar serabut yang tumbuh di tubuh manusia.
Minggu (6/7) siang, berdasarkan rute yang diberikan pihak keluarganya --keponakan Noorsyaidah-- saya berkeliling selama kurang lebih setengah jam kesana-kemari mencari Jl Merdeka III/68. Aduh, rumitnya minta ampun. Jujur saja, saya agak kesulitan menemukan alamat itu. Bahkan, saya sempat putus asa dan berniat untuk melakukan pencahrian keesokan harinya.
Ketika hendak balik kandang, tiba-tiba keponakan wanita itu menelepon saya. Dia lalu memberi petunjuk jalan mana saja yang harus saya lalui untuk menuju ke rumahnya. Sesampainya di depan rumah berukuran 4 x 6 berwarna orange, saya sempat berpikir sejenak.
Mengapa? Dalam hati saya mengatakan, apa ada yang keliru atau yang salah. Tak seperti yang saya bayangkan dari awal, rupanya penghuni rumah itu cukup berada. Di depan rumahnya ada sebuah mobil Honda Jazz berwarna hitam dan Panther berwarna biru.
Sambil melangkahkan kaki penuh keraguan, saya beranikan diri masuk ke dalam rumah. Rupanya, saya sudah ditunggu-tunggu oleh Risca --keponakan Noor-- dan Siti Robiah dan suaminya Yani --kakak kandung Noor-- serta seorang perempuan mengenakan kaos berwarna merah.
Selama kurang lebih 15 menit kami berbicara, keluarga Noor tak juga memperlihatkan wanita yang dimaksud. Saya lalu terdiam sejenak dan berpikir ada apa dibalik semua ini. Padahal kedatangan saya ke rumah itu jelas-jelas ingin bertemu dengan wanita yang dimaksud untuk melakukan wawancarai dan mengambil gambarnya.
Akhirnya, saya beranikan diri bertanya. "Maaf Bu... saya potong. Kira-kira Ibu yang katanya sakit aneh itu sekarang posisinya dimana? Bisakah saya menemuinya?" tanya saya kepada seorang wanita berkaos merah.
Wanita itu terdiam sejenak. Ia lalu menjawabnya, "Sayalah orang yang sakit itu." Sekilas saya menangkap kesan wanita itu sehat, segar bugar dan tak mengalami kelainan apa-apa. "Memang kalau pertama kali melihat tidak seperti sakit kan? Tapi kalau setelah melihat ini...." (Wanita itu menyingkapkan bajunya dan memperlihatkan bagian perutnya yang ditumbuhi besi-besi kawat).
Saya terkejut dan sedikit panik. Astaga, apa saya tidak salah melihat. Setelah saya amati, ternyata benar bahwa benda-benda yang menancap di perut wanita itu berupa kawat.
Agar saya semakin yakin, wanita itu meminta keponakannya mengambil sebagian kawat yang telah berjatuhan dan dikoleksinya dalam sebuah tempat. "Innalillahi wa Inna ilaihi rojiun," ucap saya dalam hati.
Bulu kuduk saya berdiri. Badan saya rada gemetar. Mimpikah saya? Atau jangan-jangan saya sedang berada di alam yang lain? Apalagi seumur-umur, saya belum pernah menyaksikan peristiwa langka semacam ini. Mata saya belumlah berkedip, karena terperanjat.
Sang wanita itu bercerita bahwa kawat-kawat yang ada di depan saya itu pernah terbang, saat hendak disentuh seseorang. Berbekal keimanan, saya memberanikan diri menatap kawat-kawat itu, lalu sedikit merabanya untuk memastikan apakah benda itu benar-benar kawat atau bukan. (bersambung)