Soccer Star
Takdir Silva
net
David Silva

TRIBUN - David Silva telah diincar sejak dua tahun lalu. Kiprah menawannya pada Piala Eropa 2008 membuka mata sejumlah petinggi klub elite akan potensi anak muda kelahiran Arguineguín, Spanyol 8 Januari 1986 ini. Manchester United, Chelsea, Liverpool, Reald Madrid, Barcelona, dan Manchester City pun gencar merayu. Namun, akhirnya Silva memilih Manchester City sebagai ladang kariernya.

Kiprah Silva di Piala Eropa 2008 memang menjadi saat yang yang menentukan bagi kariernya. Bahkan, sekalipun kiprahnya di Piala Dunia 2010 tak terlihat karena sering dibangkucadangkan, orangorang tetap mengingatnya sebagai winger sarat talenta. Aksi yang menjadi ‘momen of truth’ baginya di Piala Eropa 2008 adalah saat partai perempat-final ketika Spanyol kepayahan melawan Italia. Ketika itu, David Villa, dan Fernando Torres praktis tak berdaya dimatikan para bek Italia yang sangat disiplin. Pun demikian sang dirigen, Xavi Hernandez.

Nah, di sinilah Silva menunjukkan tajinya. Kendati berposisi sebagai winger, ia kerap tampil ke tengah menjadi playmaker, sekaligus membantu pertahanan. Kecepatannya menggiring bola, umpan cerdik plus akurat, pintar membuka ruangan, dan sejumlah tendangan keras ke gawang membuat lini depan Matador kembali bergigi.

Penampilan yang membuat sejumlah scouting alias ‘pemburu pemain’ dari sejumlah klub elite bergerak cepat untuk segera membajaknya dari Valencia. Apa daya, Silva ternyata punya loyalitas tinggi pada klub yang dijuluki ‘Kelelawar’ tersebut. Mulai belajar di tim yunior UD San Fernando, Silva direkut Valencia pada usia 14 tahun. Dan terus digembleng hingga akhirnya menjadi pemain kelas dunia. Ia merasa punya utang budi.

Karenanya, usai Piala Eropa 2008, Silva malah setuju mengikat kontrak lima tahun lagi dengan klub yang sedang terlilit utang tersebut. Sikap yang membuat para petinggi klub elite lain menelan ludah. “Ada hal yang jauh lebih penting ketimbang bayaran tinggi. Saya mendapatkan kepuasan bermain di sini,” ujar Silva yang mengakui bahwa bayarannya di Valencia memang jauh lebih rendah ketimbang jika hengkang ke klub lain.

Keputusan Silva membuat Presiden Valencia ketika itu, Fernando Gomez merinding. “Sangat memuaskan melihat para pemain tetap memilih bertahan di saat situasi sulit seperti ini,” ujarnya.

Namun, ketika krisis global kembali menghantam, Valencia akhirnya benar-benar tersungkur. Pada pertengahan 2009, utang mereka mencapai kisaran 400 juta poundsterling alias Rp 6,78 triliun. Bukan angka kecil untuk klub yang namanya masih kalah mentereng dibanding Barcelona ataupun Real Madrid itu. Salah satu cara mengatasi masalah ini tentu saja dengan penjualan pemain. Diharapkan pemasukan dari para pemain bintang El Che, mampu menstabilkan keuangan klub.

Sejumlah pemain bintang seperti David Villa, serta David Silva menjadi asset utama yang harus dijual untuk menutupi utang. Maka, setelah melewati berbagai isu dan kontroversi, kedua pemain yang jadi ikon ‘Kelelawar’ itu pun akhirnya terpaksa dilego. Villa dijual ke Barcelona. Dan Silva, secara mengejutkan lebih memilih Manchester City --klub yang meski bertabur pemain bintang namun statusnya masih merayap untuk jadi klub yang benar-benar elite. Kenapa tak memilih klub lain yang lebih berprestasi? Silva punya jawabannya. Ia tetap pada komitmennya untuk bergabung dengan klub level menengah, lantas bersama-sama pemain lain berjuang untuk menyulap klub yang dibelanya jadi tim nomor satu. Ada tantangan, ada perjuangan keras yang ingin direguknya dulu sebelum akhirnya menikmati keberhasilan.

Itu pula yang jadi alasan kenapa ia tetap bertahan di Valencia selama enam tahun lamanya. “Saya ditakdirkan untuk terus mencari tantangan. Enam tahun saya berjuang untuk menjadikan Valencia jadi klub nomor satu di Spanyol, meski itu belum berhasil. Kini, saya ingin jadikan The City klub nomor satu di Inggris dan Eropa,” katanya dikutip dari Daily Mail. Mampukah pemain yang dikontrak empat tahun dengan nilai 27 juta poundsterling atau sekitar Rp 365 miliar ini melakoni takdirnya, dan menjawab tantangan pribadinya tersebut?

Sumber: Tribun Pontianak Cetak | Tribunnews | den

Tribun Pontianak
Bergabung dengan Facebook Tribun Pontianak

e-mail : tribunpontianak@yahoo.com
SMS Hotline : 081257554020
Sirkulasi : (0561) 725588
Iklan : (0561) 7910123

komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Rabu, 8 September 2010