Bali - Nusatenggara
Umat Tapa Brata, Bali Sunyi dan Hening
kompas.com/muhammad hasanudin
SEPI - Satu sudut jalan di Kota Denpasar yang sepi saat Hari Raya Nyepi, Selasa (16/3).

DENPASAR, TRIBUN - Pulau Bali yang dihuni 3,6 juta jiwa dan ribuan wisatawan mancanegara maupun domestik yang berliburan, terasa sunyi dan hening bagaikan tanpa penghuni saat umat Hindu menjalankan "Tapa Brata Penyepian" Tahun Baru Saka 1932, Selasa (16/3/2010).

Mereka mengurung diri di dalam rumah masing-masing selama 24 jam guna melaksanakan empat pantangan meliputi Amati Karya atau tidak bekerja dan tidak menjalankan aktivitas lainnya, Amati Geni, yakni tidak menyalakan api maupun lampu penerang, Amati Lelungan tidak bepergian dan Amati Lelanguan tidak mengumbar hawa nafsu atau bersenang-senang.

Umat Hindu umumnya melakukan Yoga Semadi di rumah masing-masing, sekaligus kesempatan introspeksi diri terhadap perbuatan yang telah dilakukan, dengan harapan dapat diperbaiki atau disempurnakan sejak memasuki Tahun Baru Saka 1932.

Kota Denpasar, tempat-tempat wisata dan pusat perekonomian lainnya yang kesehariannya hampir selalu diwarnai kemacetan arus lalulintas kendaraan, total berubah menjadi sunyi senyap, hening dan damai, terhindar dari pencemaran atau polusi.

Suasana Bali yang demikian itu berlangsung sejak pukul 06.00 Wita sebelum matahari terbit hingga jam 06.00 Wita keesokan harinya, Rabu (17/3/2010).

Di sejumlah lokasi di kota Denpasar, seperti daerah pedesaan Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, pinggiran perkotaan Kabupaten Gianyar, Desa Rendang Kabupaten Karangasem, daerah ujung timur Pulau Bali menyebutkan, sejak pagi hanya suara alam kicauan burung, tenggeret dan aneka satwa yang terdengar serta pepohonan diterpa angin.

Demikian pula di Perumnas Monang Maning Denpasar, kawasan pemukiman yang dihuni sekitar 2.500 kepala keluarga berasal dari berbagai etnis di Nusantara, dengan toleransi tinggi warga non Hindu menghormati Hari Raya Nyepi.

Sepanjang jalan dan gang-gang tampak sepi, kecuali hanya beberapa petugas keamanan adat yang disebut pecalang berjaga-jaga di ujung gang dan perempatan jalan.

Pemandangan serupa dilaporkan juga hampir terjadi di seluruh pelosok Pulau Dewata, termasuk Kuta, Nusa Dua, Sanur dan kawasan wisata lainnya di Bali.

Wisatawan mancanegara yang sengaja berlibur ke Bali bertepatan umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian, hanya diperkenankan melakukan aktivitas di dalam kawasan hotel tempatnya menginap.

Deretan hotel berbintang di kawasan Pantai Kuta dengan tingkat hunian yang cukup menggembirakan, juga memberlakukan ketentuan tersebut bagi wisman secara ketat, sehingga Pantai Kuta yang sehari-hari ramai sebagai tempat berjemur sambil menikmati deburan ombak, juga sunyi senyap.

Pantai berpasir putih sepanjang enam kilometer itu bebas dari kunjungan wisman, hanya deburan ombak dan tiupan angin yang berembus sepanjang pantai.

Demikian pula umat lain non Hindu yang selama ini hidup rukun berdampingan satu sama lain pada hari yang "diistimewakan" itu sangat menghormati umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian atau empat larangan saat Nyepi itu. (muhammad hasanudin/kompas.com)

Tribun Pontianak
Bergabung dengan Facebook Tribun Pontianak

e-mail : tribunpontianak@yahoo.com
SMS Hotline : 081257554020
Sirkulasi : (0561) 725588
Iklan : (0561) 7910123

komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Jumat, 30 Juli 2010